BENGKALIS | ForumAspirasi.id – Menyikapi kondisi kemarau panjang yang melanda Pulau Bengkalis dan sekitarnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bengkalis mengeluarkan Tausiyah/Imbauan tentang Doa Minta Hujan, tertanggal 23 Sya’ban 1447 H atau bertepatan dengan Rabu 11 Februari 2026 M.
Imbauan tersebut bernomor Rek.003/DP.K.MUI-BKS/II/2026 dan ditujukan kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat di Kabupaten Bengkalis sebagai bentuk ikhtiar batin dan penghambaan diri kepada Allah SWT atas kondisi berkurangnya ketersediaan air bersih, terganggunya sektor pertanian, potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta dampak lainnya terhadap aktivitas masyarakat.
Dalam tausiyah tersebut, MUI Kabupaten Bengkalis menyampaikan beberapa poin penting:
Pertama, mengajak seluruh umat Islam untuk melakukan muhasabah, memperbanyak istighfar, memohon ampun, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Kedua, mengimbau kepada seluruh imam masjid dan musala agar membacakan doa khusus memohon hujan saat memimpin salat berjamaah lima waktu.
Ketiga, meminta para khatib Jumat untuk membacakan doa memohon hujan pada khutbah kedua, sebagai bentuk kesungguhan dan kebersamaan umat dalam bermunajat kepada Allah SWT.
Keempat, apabila ikhtiar melalui doa bersama tersebut telah dilakukan namun hujan belum juga turun, maka umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan Salat Istisqa’ sesuai dengan tuntunan syariat.
Ketua Umum MUI Kabupaten Bengkalis, H. Amrizal, M.Ag, bersama Sekretaris Umum, Affan Zahidi, S.Sos., M.I.S, menegaskan bahwa imbauan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral dan spiritual MUI dalam membimbing umat menghadapi situasi sulit akibat kemarau.
“Mudah-mudahan Allah SWT mengabulkan doa dan ikhtiar kita bersama, serta segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan bagi masyarakat Bengkalis,” demikian harapan yang disampaikan dalam penutup tausiyah tersebut.
MUI Kabupaten Bengkalis juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga lingkungan, tidak melakukan pembakaran lahan, serta memperkuat solidaritas sosial di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung.
Penulis Harry







