BESUKI | ForumAspirasi.id — Sejarah pemerintahan di wilayah Besuki menyimpan sejumlah kisah yang menarik untuk ditelusuri, khususnya mengenai sosok yang disebut-sebut sebagai Bupati Besuki pertama, Pangeran Raden Noto Kusumo.(10/9)
Kisah tersebut kembali menjadi perhatian setelah Ketua Umum Fast Respon Nusantara Counter Polri (FRN Counter Polri), R. Mas MH Agus Rugiarto, S.H. atau Agus Flores, mengunggah narasi mengenai sejarah dan asal-usul Pangeran Noto Kusumo.
Menurut cerita yang disampaikan Agus Flores berdasarkan penuturan orang tuanya, R. Kusnandar Astrodiarjo, sosok Noto Kusumo memiliki keterkaitan dengan lingkungan bangsawan Yogyakarta. Dalam narasi tersebut, Pangeran Notokusumo disebut sebagai tokoh yang kemudian menjadi Paku Alam I, pendiri Kadipaten Pakualaman.
Namun demikian, Agus Flores menekankan bahwa kisah mengenai hubungan genealogis tersebut merupakan catatan sejarah dan cerita keluarga yang masih perlu ditelusuri melalui sumber-sumber sejarah yang lebih kuat, terutama untuk memastikan hubungan nasab antara tokoh-tokoh tersebut dengan garis keturunan keluarga tertentu.
Dalam catatan sejarah mengenai Pangeran Notokusumo, tokoh tersebut memang dikenal sebagai salah satu bangsawan Yogyakarta yang mengalami konflik politik pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II, terutama dalam konteks hubungan Kesultanan Yogyakarta dengan pemerintahan kolonial Belanda.
Pada masa Herman Willem Daendels, Pangeran Notokusumo mengalami penangkapan dan kemudian pengasingan. Situasi berubah ketika Inggris mengambil alih kekuasaan di Jawa pada 1811 di bawah pemerintahan Thomas Stamford Raffles.
Pangeran Notokusumo kemudian dibebaskan dan memperoleh dukungan dari Inggris. Pada 1812, setelah konflik politik di Yogyakarta, ia diangkat sebagai penguasa wilayah Pakualaman dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam I.
Kadipaten Pakualaman selanjutnya menjadi salah satu entitas politik penting di wilayah Yogyakarta.
Agus Flores mengatakan, kisah yang disampaikan ayahnya menjadi bagian dari ketertarikannya untuk menelusuri sejarah hubungan antara sejumlah bangsawan Jawa, termasuk keterkaitan wilayah Yogyakarta, Madura, Sumenep hingga Besuki.
“Apa yang saya sampaikan ini berangkat dari cerita orang tua saya, R. Kusnandar Astrodiarjo. Ada kisah tentang Pangeran Noto Kusumo dan hubungan sejarahnya dengan wilayah Besuki. Tetapi sejarah harus kita lihat dengan data dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Agus Flores.
Menurutnya, pembahasan mengenai nasab atau garis keturunan seseorang tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan kemiripan nama maupun cerita turun-temurun.
“Kalau kemudian ada yang mengaitkan dengan nasab Jenderal Listyo Sigit Prabowo, itu harus dibuktikan melalui silsilah, dokumen sejarah dan sumber primer. Jangan sampai cerita sejarah berubah menjadi kesimpulan yang tidak memiliki dasar,” tegasnya.
Agus Flores juga menilai sejarah lokal perlu dikaji secara serius karena Besuki memiliki perjalanan panjang yang berkaitan dengan dinamika politik Jawa, Madura dan pemerintahan kolonial.
“Sejarah Besuki bukan sejarah kecil. Ada banyak tokoh dan peristiwa besar yang perlu dibuka kembali. Kita boleh menggali cerita leluhur, tetapi tetap harus membedakan antara fakta sejarah, tradisi lisan dan dugaan mengenai garis keturunan,” katanya.
Sementara itu, klaim bahwa Pangeran Notokusumo/Paku Alam I kemudian ditugaskan memimpin Residen Besuki dari Madura/Sumenep perlu diverifikasi lebih lanjut melalui arsip kolonial dan literatur sejarah, karena terdapat kemungkinan pencampuran antara beberapa tokoh bangsawan bernama Notokusumo/Notokusuma dari wilayah yang berbeda.
Begitu pula dengan dugaan adanya hubungan nasab antara Pangeran Notokusumo/Paku Alam I dengan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, diperlukan penelitian silsilah yang komprehensif sebelum dapat dinyatakan sebagai fakta.
Bagi Agus Flores, penelusuran sejarah tersebut justru menjadi penting agar generasi sekarang memahami perjalanan para tokoh terdahulu secara objektif.
“Jangan takut membuka sejarah. Tetapi jangan pula gegabah menyimpulkan. Prinsipnya sederhana: data, dokumen, arsip dan verifikasi. Kalau memang ada hubungan nasab, biarkan bukti sejarah yang menjelaskan,” pungkas Agus Flores.***







